Ditemui Abulis, Mukim Akob Kenang Daud Beureueh hingga Hasan Tiro dalam Satu Kisah

waktu baca 2 menit
Senin, 22 Jun 2026 03:48 12 ichsan

SEULIMEUM20062026 – Di sebuah rumah sederhana di Gampong Data Gaseu, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, tersimpan salah satu “perpustakaan hidup” terakhir sejarah perjuangan Aceh. Sosok itu adalah Tgk. Yakob Usman atau yang lebih dikenal sebagai Mukim Akob, mantan pejuang DI/TII Aceh yang kini berusia sekitar 95 tahun.

Dalam silaturrahmi yang berlangsung pada Sabtu (20/6/2026), Mukim Akob menerima kunjungan Abulis bersama Muhajir Al Fairusy dan sejumlah sahabat. Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturrahmi, tetapi juga upaya menyelamatkan sejarah lisan Aceh yang masih tersimpan kuat dalam ingatan sang tokoh.

Mukim Akob merupakan adik kandung Ayah Gani Seulimeum, salah satu figur penting dalam perjalanan sejarah Aceh. Meski telah memasuki usia senja, ia masih mampu menceritakan secara rinci berbagai peristiwa yang terjadi sejak masa penjajahan Belanda, Jepang, kemerdekaan Indonesia, pemberontakan DI/TII hingga konflik Aceh pada era berikutnya.

Beliau bukan hanya saksi sejarah, tetapi pelaku sejarah. Apa yang beliau ceritakan adalah pengalaman yang benar-benar beliau lihat dan alami sendiri,” kata Abulis.

Menurut Abulis, generasi Aceh saat ini beruntung masih memiliki tokoh seperti Mukim Akob yang dapat menjadi sumber informasi langsung mengenai perjalanan panjang daerah tersebut.

Dalam pertemuan itu, Mukim Akob mengenang banyak tokoh besar yang pernah berinteraksi dengannya, mulai dari Teungku Daud Beureueh, Teungku Hasan Saleh, Teungku Husen Yusuf, Teuku Bakhtiar Panglima Polem, hingga Hasan Muhammad di Tiro yang kelak dikenal sebagai pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Tak hanya itu, Mukim Akob juga mengisahkan peran Ayah Gani Seulimeum dalam berbagai fase perjuangan rakyat Aceh. Kisah-kisah tersebut menjadi potongan penting dari sejarah yang selama ini jarang terdokumentasi secara utuh.

Bagi Abulis, keberadaan Mukim Akob merupakan aset sejarah yang sangat berharga bagi Aceh Besar dan Aceh secara keseluruhan.

Setiap cerita yang beliau sampaikan adalah warisan. Jika tidak didokumentasikan sekarang, maka kita berisiko kehilangan banyak fakta sejarah yang tidak tertulis dalam buku,” ujarnya.

Silaturrahmi tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah Aceh tidak hanya tersimpan dalam arsip dan dokumen, tetapi juga hidup dalam ingatan para pelaku yang masih ada hingga hari ini. Di usia 95 tahun, Mukim Akob masih menjaga memori tentang perjuangan, pengorbanan, dan perjalanan panjang Aceh yang turut membentuk sejarah bangsa Indonesia.

LAINNYA