
Kuantanxpress.id – TEMBILAHAN- Pelaksanaan ibadah puasa ramadhan 1447 Hijriyah bagi semua korban yang mengalami peristiwa kebakaran 15 unit rumah di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), tentunya masih menyisakan rasa trauma yang mendalam.
Tercatat sebanyak 23 kepala Keluarga kehilangan tempat tinggal dan seluruh pakaian habis dilalap sijago merah, semua harta benda tak tersisa hangus terbakar oleh api yang membara.
Tak ada yang menyangka, Selasa 24 Februari 2026 sekitar pukul 05.30 wib pagi, peristiwa kebakaran itu begitu terjadi cepat, usai warga melaksanakan sahur dan sholat subuh tiba-tiba ada api yang menyala dari salah satu rumah warga dan melalap ke 15 rumah kayu berdempetan dengan sekejap.
Api baru bisa dijinakkan sekitar pukul delapan lewat, meskipun kebakaran itu didekat sungai namun karena alat seadanya petugas tetap saja kesusahan untuk memadamkan api lebih cepat.
Kini, bukan hanya puing bangunan saja yang tersisa, rasa trauma atas peristiwa yang melanda bagi setiap keluarga terdampak masih ada.
Pasalnya, 4 hari pasca kebakaran belum ada solusi dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir terkait tempat tinggal sementara, para korban mencari tempat tinggal secara mandiri, ada yang numpang di keluarganya dan hingga tetangga.
Bantuan bersifat darurat bencana dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir belum nampak batang hidungnya hingga hari kelima pasca peristiwa, hanya kegiatan buka puasa bersama pakai uang negara saja yang tampak dimata dan sosial media.
Berbeda dengan pola kepimpinan Kepala Daerah sebelumnya, kala itu tidak ada alasan apapun untuk tidak bisa bergerak membantu atau mengirim bantuan darurat secepat kilat.
Begitulah gambaran kekecewaan yang dirasakan seorang pemuda asal Kecamatan Gaung, Syaiful Islami, mantan Sekretaris Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Kecamatan Gaung – Tembilahan periode 2019-2021.
Ia meminta Kepala Daerah agar segera mencarikan solusi yang tepat terkait bantuan darurat dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir untuk semua korban musibah kebakaran di Simpang Gaung.
“Sudah 4 hari, kita belum lihat pergerakan dan solusi bantuan dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Sangat disayangkan jika mereka (Pemkab) beralasan terlalu sibuk buka puasa bersama dengan uang negara, sedangkan ada warganya yang terbabaikan DNA menderita akibat musibah yang menimpa,” Ucapnya kepada awak media.
Lebih lanjut, “Tapi kita bersyukur, meskipun Pemkab Inhil belum ada menyalurkan bantuan apapun, ternyata masih banyak yang peduli dengan sesama, dari berbagai lintas sektoral, dari Wakil Rakyat dapil 2 fraksi Demokrat hingga Pemerintah Kecamatan serta Perusahaan Sambu Group sudah membantu, itu luar biasa,” tambahnya.
Menurut Syaiful, hal itu harusnya menjadi sebuah tamparan keras bagi Pemkab Inhil yang lambat merespon kebakaran di Simpang Gaung.
“Harusnya itu jadi tamparan keras, itupun kalau Pemkab Inhil masih punya hati nurani,” pungkasnya.(Mhd)