Omzet Anjlok di Tempat Relokasi, Puluhan Pedagang Kue Kembali Sepihak ke Jalan Palapa.

waktu baca 3 menit
Kamis, 21 Mei 2026 11:02 46 Muhammad

Kuantanxpress.id – Tembilahan, 21 Mei 2026 – Upaya penataan pasar yang digulirkan pemerintah daerah tampaknya membentur tembok tebal realita ekonomi. Sebanyak 64 pedagang kue yang sebelumnya direlokasi ke Jalan Kapten Mukhtar, kini memilih kembali menempati lapak lama mereka di sepanjang kawasan Jalan Palapa, Tembilahan.

​Aksi kembali ke lokasi semula ini dilakukan secara mandiri atas kesepakatan bersama para pedagang, menyusul merosotnya pendapatan mereka secara drastis selama berada di tempat relokasi.

​Berdasarkan investigasi mendalam di lapangan pada Kamis (21/5/2026), aktivitas perdagangan di Jalan Palapa kini telah kembali ramai seperti sedia kala. Untuk sementara waktu, para pedagang mengaku bisa menjalankan usahanya dengan lancar tanpa dibebani pungutan biaya apa pun.

​Dilema Isi Dompet: Sepi di Tempat Baru, Ramai di Jalan Palapa.

​Kembalinya puluhan pedagang ini menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat. Sebelumnya, otoritas setempat telah berupaya menata kawasan tersebut agar lebih tertib, bersih, dan bebas kemacetan dengan memindahkan pusat jajanan tersebut ke Jalan Kapten Mukhtar. Namun bagi pedagang, kebijakan penataan tersebut justru menjadi bumerang bagi kelangsungan hidup dapur mereka.

​”Hasil pantauan dan investigasi kami di lapangan mengonfirmasi bahwa 64 pedagang kue ini memang berinisiatif sendiri untuk pulang ke Jalan Palapa. Keputusan ini diambil karena lokasi lama jauh lebih strategis, aksesibel, dan sudah melekat di benak pelanggan.

Di tempat relokasi (Jalan Kapten Mukhtar), dagangan mereka sepi peminat,” ujar seorang sumber yang memantau langsung dinamika di lapangan, Kamis (21/5/2026).

​Para pedagang mengakui bahwa penurunan omzet di lokasi baru sangat mencekik. Minimnya akses pembeli dan kurangnya promosi di tempat relokasi dituding menjadi penyebab utama mereka terpaksa “balik kanan”.

​Komitmen Ketertiban dan Harapan Solusi Tanpa Penggusuran

​Seorang perwakilan pedagang yang enggan disebutkan namanya menuturkan, langkah kembali ke Jalan Palapa ini murni didasari atas desakan kebutuhan bertahan hidup (survival) pasca-musyawarah antarpedagang.

​”Kami terpaksa kembali demi menghidupi keluarga. Selama berjualan kembali di sini, kami bersyukur tidak ada pungutan liar atau biaya apa pun. Kami sangat berharap pemerintah daerah dan pengelola pasar bisa memahami kondisi kami,” ujarnya.

​Ia menambahkan, para pedagang berkomitmen penuh untuk menjaga kebersihan dan tidak mengganggu ketertiban umum di Jalan Palapa sebagai bentuk kompensasi atas ruang publik yang mereka gunakan kembali.

​”Kami siap ditata, tetapi tolong pertimbangkan juga isi piring kami. Kami berkomitmen untuk menjaga ketertiban di sini secara swadaya,” pungkasnya.

​Hingga berita ini ditulis, pihak pengelola pasar maupun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat belum memberikan keterangan resmi terkait langkah sepihak para pedagang yang kembali mengokupasi Jalan Palapa ini. Publik kini menanti apakah pemerintah daerah akan melunakkan aturan demi aspek kemanusiaan, atau kembali melakukan penertiban demi estetika kota.

LAINNYA