Ketika Buah Melimpah, Nilai Kelapa Turun, Harga Jual di Tingkat Petani Anjlok

waktu baca 3 menit
Sabtu, 22 Agu 2026 16:56 14 Muhammad

Kuantanxpress.id, – Inhil, – 22 Agustus 2026. Setiap kali panen kelapa melimpah, petani Indragiri Hilir kembali dihadapkan pada persoalan klasik, harga turun.

Alasannya pun hampir selalu sama, buah melimpah, pasokan banyak, sementara permintaan terbatas.

Secara ekonomi, alasan tersebut masuk akal. Hukum penawaran dan permintaan memang dapat memengaruhi harga. Namun, pertanyaan yang lebih besar adalah apakah seluruh penurunan harga di tingkat petani memang semata-mata akibat mekanisme pasar?

Pertanyaan ini penting karena perusahaan yang menjadi pembeli kelapa tidak selalu hanya memperdagangkan buah dalam bentuk mentah. Ada perusahaan yang memiliki kegiatan pengolahan dan produk turunan kelapa.

Jika demikian, ketika pasokan bahan baku meningkat, semestinya ada pertanyaan mengenai berapa kapasitas industri pengolahan tersebut menyerap kelapa petani.

Jangan sampai petani selalu berada pada posisi yang sama, ketika buah sedikit, kebutuhan perusahaan tinggi, ketika buah melimpah, harga justru ditekan dengan alasan pasokan berlebih.

Ini bukan berarti perusahaan wajib membeli seluruh kelapa petani dengan harga tertentu. Kapasitas pabrik, biaya produksi, permintaan produk turunan, kontrak ekspor, kualitas bahan baku dan kondisi pasar global tetap harus diperhitungkan.

Namun justru karena ada begitu banyak faktor tersebut, mekanisme pembentukan harga perlu dibuka dan dijelaskan.

MOU Perusahaan dengan Eksportir Perlu Dipertanyakan. Dalam bisnis berskala besar, sulit dibayangkan sebuah MOU dengan pihak penerima atau eksportir dibuat tanpa memperhitungkan fluktuasi pasokan.

Ketika buah sedikit, bagaimana perusahaan memenuhi kebutuhan sesuai MOU?

Apakah perusahaan mencari pasokan dari wilayah lain? Apakah harga dinaikkan untuk menarik pasokan? Berapa volume yang dibutuhkan?

Lalu ketika panen raya, bagaimana mekanismenya?

Berapa volume yang dijamin diserap? Apakah ada batas maksimal? Jika produksi petani melebihi kebutuhan, ke mana kelebihan kelapa tersebut dikirim?

Pertanyaan ini penting karena jawaban atas kondisi buah sedikit dan buah melimpah dapat memperlihatkan bagaimana sebenarnya rantai perdagangan kelapa bekerja.

Di sinilah muncul dugaan yang patut diperiksa, apakah terdapat konsentrasi kekuatan pembelian yang membuat petani memiliki posisi tawar sangat lemah?

Besarnya jaringan pembelian suatu perusahaan belum otomatis berarti monopoli atau monopsoni. Begitu pula harga yang turun belum otomatis membuktikan adanya pelanggaran persaingan usaha.

Namun, jika ternyata satu perusahaan atau kelompok usaha menguasai sebagian besar pembelian, memiliki jaringan pancang yang luas, terdapat pembatasan pemasok menjual kepada pembeli lain, atau terdapat koordinasi harga antar pembeli, maka persoalan tersebut patut diuji berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pasal 13 berkaitan dengan oligopsoni, Pasal 18 dengan monopsoni, dan Pasal 19 antara lain berkaitan dengan tindakan yang dapat menghambat pelaku usaha lain dalam pasar bersangkutan.Tetapi sekali lagi, data adalah kuncinya.

Pemerintah harus menggandeng KPPU untuk mengetahui berapa volume pembelian masing-masing perusahaan, berapa pangsa pembeliannya terhadap produksi kelapa Inhil, bagaimana jaringan pancang bekerja, apakah terdapat MOU eksklusif, dan bagaimana harga dibentuk.

Selama ini perdebatan sering berhenti pada satu angka, harga kelapa di tingkat petani.

Padahal yang perlu dilihat adalah rantai nilai kelapa secara keseluruhan.

Berapa harga yang dibayar kepada petani?
Berapa harga di tingkat pancang?
Berapa biaya transportasi dan pengolahan?
Berapa nilai produk turunan?
Berapa nilai ekspornya?
Dan yang paling penting, siapa yang menikmati nilai tambah terbesar dari komoditas yang berasal dari kebun petani Inhil?

Jika harga bahan baku turun karena alasan buah melimpah, masyarakat juga berhak mengetahui apakah harga produk turunannya ikut turun secara proporsional.

Jika tidak, tentu diperlukan penjelasan mengenai ke mana selisih nilai

LAINNYA