Karhutla dan Data Lintas Negara: Saat Informasi Menjadi Tanggung Jawab Serantau

waktu baca 4 menit
Selasa, 6 Okt 2026 11:54 16 Redaksi

Oleh: Dr. Hapini Awang

Research Fellow, Institute for Advanced and Smart Digital Opportunities (IASDO),
School of Computing, Universiti Utara Malaysia.

Jika asap dapat bergerak lintas negara dalam hitungan jam, informasi yang membantu kita menghadapinya juga harusbergerak secepat itu.

Setiap musim kering, kita kembali melihat peta dengan titik-titik merah yang menunjukkan lokasi panas yang terdeteksioleh satelit. Informasi ini penting, tetapi hanya satu bagiandari cerita. Kita masih perlu mengetahui kondisi cuaca, arahangin, kondisi lahan, kualitas udara, dan apa yang benar-benarterjadi di lapangan.

Bagi saya, karhutla tidak cukup hanya dilihat sebagaipersoalan api. Ia juga merupakan persoalan informasi dan kerja sama serantau. Ketika dampaknya dapat dirasakan jauhdari lokasi awal, kemampuan negara-negara di kawasan iniuntuk memahami situasi yang sama menjadi semakin penting.

Titik panas atau hotspot, misalnya, sering menjadi perhatianpertama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan GeofisikaIndonesia (BMKG) menjelaskan bahwa satelit mendeteksinyamelalui suhu yang lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya. Namun pengamatan satelit juga memilikiketerbatasan. Tutupan awan dapat menyebabkan lokasi panastidak terdeteksi. Artinya, satu titik merah di layar belummenceritakan keseluruhan keadaan di lapangan.

Penelitian juga menunjukkan mengapa kita perlu melihatlebih daripada satu jenis data. Studi yang diterbitkan dalamScientific Reports pada 2023 menemukan bahwamemasukkan informasi mengenai kelembapan tanah dan perubahan muka air tanah meningkatkan kemampuan model dalam memprediksi kebakaran aktif di wilayah yang diteliti di Indonesia. Pesannya sederhana: semakin lengkap konteksnya, semakin baik pula kita memahami risikonya.

Kita mungkin tidak kekurangan data. Yang lebih sulit adalahmengubah data menjadi keputusan.

Kabar baiknya, Asia Tenggara tidak memulai dari nol. ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) sudahmenyediakan pemantauan regional yang menggabungkanberbagai informasi. Dalam satu portal, pengguna dapatmelihat lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran aktif, citra satelit, pengamatan cuaca, prakiraan angin, curah hujan, konsentrasi PM10, hingga kawasan gambut.

Ini penting untuk diapresiasi. Kerja sama data lintas negara bukan lagi sekadar gagasan. Fondasinya sudah dibangun.

ASEAN juga memiliki Haze-Free Roadmap 2023–2030 yang melanjutkan kerja sama dalam menghadapi pencemaran kabutasap lintas batas. Roadmap tersebut menekankan pendekatanberbasis sains, kerja sama antarpihak, serta kebutuhanregional yang berbeda-beda. Jadi pertanyaannya sekarangbukan lagi, “Mengapa kita tidak berbagi data?” Pertanyaannyaadalah, apa langkah berikutnya setelah data itu sudahdibagikan?

Menurut saya, tahap berikutnya adalah membawa informasiregional itu semakin dekat kepada kebutuhan orang yang harus bertindak. Gambaran yang sudah ada dapat terusdiperkaya dengan informasi lapangan, kondisi lahan yang lebih rinci, perkembangan kualitas udara, serta informasi yang membantu memperkirakan siapa yang mungkin terdampakdan kapan.

Bayangkan kemampuan regional yang sudah ada menjadisemakin lengkap. Petugas di Kalimantan dapat memantauperkembangan risiko di lapangan, sementara pihak di Sarawak atau Singapura melihat gambaran yang sama mengenaiperubahan arah angin dan potensi dampaknya terhadapkualitas udara. Mereka bukan sekadar melihat kumpulanangka yang sama, tetapi memahami situasi yang sama.

Perbedaannya besar. Jika risiko terlihat meningkat, petugasdapat memperkuat pemantauan sejak dini. Pemerintah dapatmenyiapkan langkah-langkah yang diperlukan. Fasilitaskesehatan dan sekolah dapat bersiap, sementara masyarakatmemperoleh informasi sebelum keadaan memburuk.

Jadi, tantangannya bukan lagi sekadar berbagi data. Tantanganberikutnya adalah mengubah data bersama menjadi keputusanbersama.

Teknologi tentu membantu, tetapi teknologi tidak bekerjasendiri. Kajian terhadap proyek Gambut Kita di Indonesia menunjukkan bahwa pengelolaan kebakaran gambut juga bergantung pada hubungan antara peneliti, pembuatkebijakan, masyarakat, dan pihak yang menggunakanpengetahuan tersebut. Sistem menjadi lebih berguna ketikainformasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan merekayang perlu mengambil tindakan.

Ada manfaat lain yang kadang terlewatkan. Informasi regional yang jelas dan dapat dipercaya juga dapat mengurangi ruangbagi spekulasi. Ketika informasi tidak lengkap, asumsi mudahmuncul. Di media sosial, asumsi bahkan sering bergerak lebihcepat daripada klarifikasi. Masalah lingkungan yang seharusnya mendorong kerja sama akhirnya berubah menjadiperdebatan tentang siapa yang harus disalahkan.

Karena itu, pencapaian ASEAN dalam membangunpemantauan dan kerja sama regional patut dihargai. Yang perlu dilakukan sekarang bukan memulai dari awal, tetapimemperkuat apa yang sudah ada agar informasi semakin cepatsampai kepada mereka yang membutuhkannya dan semakinmudah diterjemahkan menjadi tindakan.

Saya tidak melihat data sebagai jawaban atas semua persoalankarhutla. Data tetap membutuhkan manusia yang memahamikonteks, lembaga yang bersedia bekerja sama, dan kepercayaan antarnegara yang menghadapi risiko yang sama.

Karhutla menunjukkan bahwa risiko lingkungan tidak selaluberhenti pada batas negara. Respons bersama juga tidakbermula ketika kita memiliki data yang sama. Ia bermulaketika kita memahami situasi yang sama, lalu tahu apa yang perlu dilakukan bersama.

LAINNYA