
ACEH BESAR — Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee menjadi salah satu pusat perhatian dalam ekspedisi ilmiah internasional selama 15 hari yang dilakukan oleh tim peneliti dari Malaysia bersama dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Kunjungan strategis ini dilakukan dalam rangka pengumpulan data penulisan buku yang mengkaji secara mendalam tentang budaya, sejarah, dan transformasi sosial masyarakat Aceh.
Bagi keluarga besar Zawiyah Tanoh Abee, kolaborasi akademik ini menjadi momentum penting untuk merekatkan kembali hubungan intelektual Islam-Melayu yang telah terjalin kuat sejak berabad-abad lalu. Kehadiran para peneliti luar dan akademisi lokal dinilai sebagai langkah nyata dalam memperkenalkan kekayaan peradaban Aceh kepada dunia.
Perwakilan pimpinan Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee, T. Abulis Samarkhan, menyambut langsung tim peneliti yang terdiri dari Nor Liana Omar (penulis dan konsultan penerbitan independen Malaysia), Dr. Ruziaton Hasim (pakar Pengajian Islam dan medis Malaysia), serta tim ahli dari STAIN Meulaboh yang dipimpin oleh Muhajir Al-Fairusy, Jovial Pally Taran, dan Hanif Dahlan. Dalam pertemuan tersebut, Abulis memaparkan sejarah panjang, tradisi intelektual Islam, serta memperlihatkan koleksi manuskrip kuno peninggalan ulama Aceh terdahulu.
”Kami merasa terhormat sekaligus memikul tanggung jawab besar. Manuskrip-manuskrip yang tersimpan di Tanoh Abee ini bukan sekadar benda mati untuk dikagumi secara visual. Ini adalah rekam jejak nyata bagaimana indatu (leluhur) kita memecahkan masalah hukum, sosial, keagamaan, hingga pengobatan pada zamannya. Khazanah ini adalah bukti bahwa Aceh pernah menjadi mercusuar intelektual di Asia Tenggara,” ujar T. Abulis Samarkhan.
Ekspedisi ini secara khusus menyoroti dinamika sosial masyarakat Aceh sebelum dan sesudah tsunami, serta peran penting perempuan dalam tatanan sosial-keagamaan—termasuk ketokohan figur seperti Cut Fid Tanoh Abee dan ulama perempuan lainnya. Seluruh hasil kajian lapangan ini nantinya akan diterbitkan dalam bentuk buku di Malaysia sebagai referensi akademik internasional.
Melalui kolaborasi ini, Zawiyah Tanoh Abee berharap dapat mendorong upaya penyelamatan dan alih aksara manuskrip Jawi kuno ke dalam narasi populer yang mudah diakses oleh generasi muda di tingkat regional. Selain itu, proyek penulisan buku ini diharapkan mampu memperkuat jejaring riset lintas negara dan merevitalisasi kepedulian global terhadap kelestarian fisik manuskrip-manuskrip kuno yang rentan rusak dimakan usia.
”Pintu Zawiyah Tanoh Abee selalu terbuka bagi para peneliti. Kami berharap buku yang diterbitkan di Malaysia nanti menjadi jembatan ilmu yang kokoh untuk menyambung kembali sanad keilmuan yang pernah menyatukan Nusantara,” pungkas Abulis.