Jejak Dr. Fahri Bachmid, Putra Maluku yang Menembus Panggung Nasional

waktu baca 7 menit
Kamis, 10 Sep 2026 05:33 60 Admin

DARI WAIMANGIT KE PANGGUNG KONSTITUSI

Jejak Dr. Fahri Bachmid, Putra Maluku yang Menembus Panggung Nasional

Ada banyak anak Maluku yang pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu dan masa depan. Sebagian kembali sebagai birokrat, politisi, pengusaha, akademisi, atau tokoh masyarakat.

Tetapi ada pula yang perjalanannya membawa nama kampung halaman hingga ke ruang-ruang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Salah satunya adalah Dr. Fahri Bachmid, S.H., M.H., putra Waimangit, Kabupaten Buru, Maluku, yang lahir pada 29 Agustus 1977.

Perjalanan Fahri menarik bukan hanya karena ia kemudian dikenal sebagai advokat dan pakar hukum tata negara. Lebih dari itu, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana seorang anak yang tumbuh dari daerah dapat membangun karier akademik, profesi hukum, hingga memasuki panggung politik nasional.

Dari Waimangit

Fahri Bachmid lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana di Waimangit. Masa kecilnya jauh dari gambaran kehidupan seorang tokoh nasional seperti yang dikenal masyarakat sekarang.

Dalam sebuah profil yang pernah diterbitkan media Maluku, disebutkan bahwa Fahri merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara, putra pasangan Umar Bachmid dan Sehat Bachmid. Ayahnya bekerja sebagai petani, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga, Menariknya, perjalanan pendidikannya tidak dilewati dengan kemudahan.

Dalam kisah yang pernah disampaikan Fahri, aktivitas menanam cokelat bersama ayahnya menjadi salah satu bagian dari perjuangan membantu kebutuhan hidup dan pendidikan. Dari kehidupan sederhana itulah kemudian tumbuh tekad untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, Ia menempuh, pendidikan dasar di SD Al-Hilal Waimangit, kemudian SMP Negeri 1 Kecamatan Air Buaya dan melanjutkan pendidikan menengah di Namlea.

Dari Pulau Buru, langkah Kaki nya kemudian membawa Fahri ke Makassar Memilih Jalan Hukum, Tahun 1999 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pendidikannya ketika Fahri mulai menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Ia memilih konsentrasi yang kemudian menjadi bidang keahliannya hingga sekarang, yakni Hukum Tata Negara., Pendidikan S1 diselesaikan pada 2004. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan Magister Hukum dengan konsentrasi Hukum Tata Negara dan menyelesaikannya pada 2009., Tidak berhenti di jenjang magister, Fahri kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di bidang Ilmu Hukum, juga di UMI Makassar. Pada 2019, ia berhasil meraih gelar doktor.

Dalam catatan Universitas Muslim Indonesia, Fahri bahkan tercatat sebagai mahasiswa berprestasi/lulusan terbaik Program Doktor Ilmu Hukum konsentrasi Hukum Tata Negara dengan IPK 3,98. Disertasinya mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan dunia konstitusi, yakni hakikat putusan Mahkamah Konstitusi atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD 1945.

Dari sini terlihat bahwa dunia hukum bagi Fahri bukan sekadar profesi. Hukum kemudian menjadi jalan intelektual yang terus ia tekuni.

Dari Pengacara Publik hingga Membangun Kantor Hukum.

Setelah menyelesaikan pendidikan hukumnya, Fahri mulai membangun pengalaman profesional.

Ia pernah berkiprah sebagai pengacara publik pada Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) wilayah Sulawesi Selatan. Ia juga sempat bergabung dengan sejumlah kantor hukum di Makassar sebelum akhirnya membangun kantor hukumnya sendiri.

Pada 2008, ia mendirikan Law Firm Dr. Fahri Bachmid, S.H., M.H. & Associates, Kariernya kemudian berkembang ke berbagai perkara hukum, khususnya yang berkaitan dengan hukum tata negara, hukum administrasi negara, pemilu dan sengketa hasil pemilihan kepala daerah. Ia antara lain pernah dipercaya menangani perkara yang berkaitan dengan KPU Maluku serta sejumlah kepala daerah di Maluku.

Ia juga pernah menangani sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi.

Namanya Mulai Dikenal di Mahkamah Konstitusi

Bagi seorang ahli hukum tata negara, Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu panggung penting.
Nama Fahri kemudian semakin dikenal ketika terlibat dalam berbagai perkara konstitusi.

Pada Pilpres 2019, ia menjadi bagian dari tim kuasa hukum Joko Widodo Ma’ruf Amin dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum di Mahkamah Konstitusi.

Lima tahun kemudian, pada Pilpres 2024, ia kembali berada di panggung yang sama sebagai bagian dari Tim Hukum Prabowo Subianto Dan Gibran Rakabuming Raka.

Dua pengalaman tersebut memperlihatkan satu hal: perjalanan seorang anak Waimangit telah sampai pada ruang hukum konstitusi di tingkat nasional.

Namun kiprahnya di MK tidak hanya sebagai kuasa hukum. Fahri juga beberapa kali tampil sebagai ahli hukum tata negara dalam perkara pengujian undang-undang.

Bahkan pada 28 Januari 2026, dalam Perkara Nomor 189/PUU-XXIII/2025, Fahri memberikan keterangan sebagai ahli di hadapan Mahkamah Konstitusi.

Dalam keterangannya, ia membahas prinsip independensi kekuasaan kehakiman dan pentingnya kemandirian anggaran lembaga peradilan. Ini menunjukkan bahwa kiprahnya tidak berhenti pada dunia advokat. Ia juga aktif sebagai akademisi dan ahli dalam diskursus ketatanegaraan.

Akademisi yang Tetap Berada di Dunia Praktik.

Fahri Bachmid juga memilih jalan akademik.

Ia tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia dengan bidang pengajaran antara lain Hukum Tata Negara, Hukum Konstitusi dan Hukum Administrasi Negara. Ia juga tercatat mengajar pada Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam As-Syafi,iyah Jakarta dan Fakultas Hukum IAIN Ambon.

Selain mengajar, ia aktif dalam kegiatan penelitian dan publikasi ilmiah. Data SINTA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga mencatat Fahri Bachmid sebagai akademisi bidang Ilmu Hukum dan Hukum Tata Negara, dengan sejumlah publikasi ilmiah.

Di lingkungan akademik UMI, ia juga pernah dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Pusat Studi Konstitusi dan Pemerintahan (PaKem) Fakultas Hukum UMI. Dengan demikian, perjalanan Fahri memiliki tiga jalur yang berjalan beriringan: akademisi, advokat, dan ahli hukum tata negara.

Ketika Jalan Hukum Bertemu Politik.

Perjalanan berikutnya membawa Fahri masuk lebih jauh ke politik nasional.

Pada Mei 2024, melalui Musyawarah Dewan Partai Bulan Bintang, Fahri Bachmid terpilih sebagai Penjabat Ketua Umum PBB, menggantikan Yusril Ihza Mahendra. Ia memperoleh 29 suara dari 49 suara dalam proses tersebut.

Posisi tersebut menambah warna dalam perjalanan kariernya.

Seorang putra Buru yang sebelumnya dikenal luas sebagai akademisi dan praktisi hukum, kemudian dipercaya memimpin sebuah partai politik tingkat nasional.

Jabatan itu memang bersifat sementara. Fahri menjabat sebagai Penjabat Ketua Umum PBB sejak 18 Mei 2024 hingga Januari 2025. Namun secara perjalanan pribadi, momentum tersebut tetap menjadi bagian penting dari rekam jejaknya.

Bukan Sekadar Jabatan

Kalau melihat perjalanan Fahri Bachmid hanya dari daftar jabatan, kita mungkin hanya akan menemukan nama seorang advokat, dosen, ahli hukum tata negara dan pernah menjadi pimpinan partai politik.

Tetapi ada sisi lain yang menurut saya jauh lebih menarik. Ia berasal dari Waimangit, sebuah tempat yang bagi banyak orang di luar Maluku mungkin tidak terlalu dikenal. Dari lingkungan yang sederhana itu, ia berjalan menuju Makassar untuk menuntut ilmu.

Dari dunia mahasiswa, ia masuk ke dunia bantuan hukum. Dari seorang pengacara muda, ia membangun kantor hukum. Dari praktisi, ia berkembang menjadi akademisi dan ahli hukum tata negara.

Kemudian namanya muncul di ruang sidang Mahkamah Konstitusi, mendampingi pasangan calon presiden, memberikan pandangan sebagai ahli, dan akhirnya dipercaya memegang tampuk kepemimpinan partai politik nasional.

Bagi saya, perjalanan seperti ini layak dicatat bukan semata-mata karena siapa Fahri Bachmid hari ini.

Tetapi karena ada pesan yang lebih besar di dalamnya bahwa : Anak daerah tidak harus kehilangan kampung halaman ketika mengejar ilmu dan prestasi.

Justru dari kampung halaman itulah identitas dan perjalanan itu bermula.

Dari Pulau Buru untuk Indonesia

Sebagai sesama anak Maluku dan sesama orang Buru, tentu ada rasa bangga ketika melihat seseorang yang lahir dari tanah yang sama kemudian mampu berdiri di ruang-ruang nasional.

Tetapi tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkultuskan seseorang.

Setiap perjalanan tentu memiliki sisi terang, tantangan, keputusan, bahkan mungkin perbedaan pandangan yang tidak semuanya kita ketahui.

Karena itu, tulisan ini lebih tepat dilihat sebagai catatan awal tentang perjalanan seorang putra Buru.

Masih ada banyak bagian yang perlu dilengkapi.

Bagaimana sebenarnya masa kecil Fahri di Waimangit?

Siapa guru yang paling memengaruhinya? Mengapa ia memilih hukum?

Bagaimana perjuangan ketika pertama kali datang ke Makassar?

Apa perkara yang paling berkesan selama menjadi advokat?

Bagaimana pandangannya tentang Maluku dan Pulau Buru?

Dan yang paling penting, setelah mencapai berbagai posisi di tingkat nasional, apa yang masih ingin ia lakukan untuk tanah kelahirannya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mungkin hanya bisa dijawab oleh Fahri Bachmid sendiri.

Dan mungkin, di situlah tulisan ini belum selesai. Karena setiap tokoh memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar daftar jabatan di atas kertas.

Dari Waimangit, Kabupaten Buru, seorang anak muda pernah berangkat mengejar ilmu.

Hari ini, namanya telah berada di antara para akademisi, advokat dan pemikir hukum tata negara yang ikut mewarnai diskursus hukum nasional.

Perjalanan itu masih berlangsung. Dan sebagai orang Buru, kita tentu berharap perjalanan seorang putra daerah seperti Dr. Fahri Bachmid tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi dan keluarga, tetapi juga dapat memberi arti bagi daerah dan generasi muda Maluku di masa yang akan datang.

Jakarta 10-09-2026

Penulis Om Amars-Kuantanxpress.id

LAINNYA